Friday, March 23, 2018

Bumi Kita Tengah ''Sakit''

Benarkah kini bumi benar benar tengah “sakit”? Pertanyaan ini menyeruak dalam diri saya setelah mendengarkan pemaparan mengenai isu global yang dialami dunia serta membaca surat kabar atau berbagai sumber di internet mengenai segala permasalahan yang tengah terjadi di bumi ini. Sering terdengar berita mengenai betapa kasihannya orang – orang di Haiti karena mereka kekurangan air bersih dan makanan, gizi buruk yang dialami banyak anak di Afrika dan seluruh dunia, kelangkaan energi dan sumber daya baik yang terbaharukan maupun yang tak terbaharukan, perang di berbagai belahan dunia, dan  lain sebagainya. Apakah sebegitu “sakit” dan “kritis” nya bumi hingga kemungkinan beberapa puluh tahun lagi bumi tak akan dapat ditinggali dengan nyaman oleh makhluk hidup di dalamnya, baik manusia hewan dan ataupun tumbuhan?

Krisis air bersih, energi dan pangan tentu dirasakan oleh banyak negara di dunia, tetapi negara-negara yang paling banyak merasakan krisis tersebut adalah negara yang miskin atau negara berkembang. Hal yang sama hampir tidak ditemukan di negara maju, dimana pendapatan per kapita negara tinggi dan rata rata masyarakat hidup secara modern dan lebih makmur.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Padahal secara sumber daya, negara – negara yang masuk kategori berkembang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang lebih banyak daripada negara maju. Tengoklah Indonesia dan Singapura. Indonesia memiliki SDA dan SDM yang jauh lebih banyak dibandingkan Singapura, tetapi mengapa Singapura jauh lebih maju dari Indonesia?

Menurut saya, permasalahan utama yang dialami oleh negara negara miskin dan berkembang adalah dari segi manajemen atau pengelolaan, baik pengelolaan SDA maupun SDM. Kurangnya pengelolaan dari segi SDM diantaranya adalah pendidikan masyarakat yang tidak merata. Pendidikan , pemajuan dan perbaikan infrastruktur di negara miskin dan berkembang hanya dipusatkan di kota besar, padahal banyak dari sumber daya alam tidak berada di kota besar. Akibatnya masyarakat di kota kecil yang umumnya bekerja sebagai petani, peladang, peternak, dan nelayan berurbanisasi ke kota besar untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Akibatnya, supply bahan pokok semakin berkurang. Hal tersebut mengakibatkan harga – harga semakin tinggi, sehingga masyarakat miskin kesulitan mendapatkan kebutuhannya dan menjadi semakin miskin.



Masyarakat yang ada di sekitar sumber sumber daya  juga cenderung menggambil dan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan teknologi yang rendah. Teknologi yang rendah mengakibatkan produksi yang kurang maksimal dan efisien. Akibatnya sumber daya yang ada tidak terolah dengan baik, banyak sumber daya yang terbuang, padahal masih bisa dimanfaatkan untuk hal yang lain. Di sisi lain,  negara berkembang dan miskin juga cenderung memiliki jumlah penduduk yang sangat besar dan terus berkembang.Peningkatan jumlah penduduk sejalan dengan peninggkatan kebutuhan dan permintaan pasar. Namun karena tidak diimbangi dengan pendidikan dan teknologi tinggi sumber daya yang ada tidak bisa maksimal digunakan untuk mencukupi kebutuhan  masyarakat. Akibatnya sumber daya terus dikeruk, tanpa diimbangi dengan pembaharuan sumber daya kembali dan remidiasi lahan yang telah selesai diambil dengan baik. Keuntungan sesaat lebih diminati dibandingkan konservasi yang terlihat seakan seperti pemborosan biaya. Padahal manfaatnya akan dirasakan jauh kedepan. Selin itu perusakan alam akibat kebakaran hutan, pertambangan tanpa remidiasi,dan lain sebagainya turut memperparah kerusakan sumber daya tersebut. Hal ini juga tidak diimbangi dengan peraturan yang kuat dan mengikat dari pemerintah di negara miskin dan berkembang mengenai perlindungan sumber daya dan pengkonservasiannya. Akibat nya kerusakan sumber daya semakin marak terjadi dan berimbas pada kekurangan sumber daya yang dialami negara negara tersebut.
 



Itulah yang menurut saya yang menjadi penyebab terjadinya berbagai kelangkaan sumber daya yang terjadi di negara miskin dan berkembang. Tentunya masih banyak lagi penyebab dari krisis tersebut yang lainnya. Krisis sumber daya yang terjadi tentu tidak dapat ditentukan dengan mudah berapa kebutuhan masyarakat akan sumber daya dan berapa sumber daya yang dapat disediakan oleh bumi. Hal ini terjadi karena besarnya cangkupan perhitungan. Jumlah penduduk dunia yang sangat besar dan jumlah luasan bumi yang sangat luas dan tidak seluruhnya terjamah manusia mempersulit perhitungan. Akan tetapi permasalahan dan krisis yang terjadi tersebut tentu harus dicari solusinya. Solusi tersebut dari pemerintahan mungkin bisa dimulai dari pemerataan, baik pemerataan pendidikan, pemerataan pembangunan, pemerataan distribusi sumber daya, dan pemerataan akan berbagai akses lainnya. Pemerataan pemerataan tersebut tentu akan memacu masyarakat untuk maju, berkembang dan menggali potensi daerahnya masing masing serta berusaha menjaga dan melindunginya agar terus bisa dimanfaatkan untuk masa depan. Sehingga konservasi dapat berlangsung.

Teknologi juga akan semakin maju dan merata di seluruh masyarakat, sehingga sumber daya dapat terkelola secara baik dan produksi dapat berlangsung secara efisien dan lebih maksimal. Pemerataan dan peningkatan pendidikan juga mungkin dapat mengurangi  permasalahan ledakan jumlah penduduk. Law Enforcement juga harus ditegakkan sehingga diharapkan kerusakan yang terjadi dapat diminimalisir. Selain itu kegiatan mitigasi dan konservasiuntuk sumber daya yang telah rusak juga harus dilaksanakan, sehingga sumber daya tetap terjaga kelestariannya. Selain itu teknologi – teknologi terbaru juga harus terus ditingkatkan, agar sumber sumber daya yang awalnya tidak tersentuh dapat termanfaatkan dengan baik sebagai sumber daya alternatif. Sebagai penduduk global, yang mungkin dapat kita lakukan adalah sebisa munggkin mengurangi konsumsi sumber daya dengan melakukan 3R reuse, reduce dan recycle terhadap barang kepemilikan kita, melakukan penghematan dan tidak menggunakan sumber daya secara berlebihan. Mulai melakukan reboisasi dan konservasi alam serta memberikan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan, baik bantuan dana maupun lewat pemikiran mengenai solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi krisis tersebut.   
Share:

0 comments:

Post a Comment